jump to navigation

Bangladesh ‘Haramkan’ Facebook, Alkhomdulillah…What about Indonesia? May 31, 2010

Posted by Maxzhum in : Uncategorized , trackback

Setelah Pakistan, kini giliran Bangladesh yang memblokir Facebook. Alasannya sama, yaitu terkait rasa geram umat muslim di negara itu terhadap keberadaan akun penggambar karikatur Nabi Muhammad SAW.

Dengan demikian, Bangladesh menjadi negara kedua di Asia Selatan yang melakukan pemblokiran terhadap situs jejaring sosial tersebut.

Kepala pejabat bidang telekomunikasi Bangladesh Zia Ahmed menyebutkan, sejak akhir pekan lalu akses ke Facebook diblokir untuk sementara. Hal ini dilakukan Bangladesh untuk menyatakan antipati mereka terhadap keberadaan akun yang dianggap menyinggung dan menistakan agama Islam. Terlebih lagi, seperti diketahui sebagian besar penduduk Bangladesh merupakan umat muslim. (detik.com)

Pekan lalu keberadaan akun Facebook bernama ‘Draw Mohammed Day’ menetapkan tanggal 20 Mei sebagai hari dimana orang-orang berlomba membuat karikatur Nabi Muhammad. Hal tersebut sontak membangkitkan kemarahan umat muslim di seluruh dunia dan berujung pada pemblokiran Facebook di Pakistan dan aksi protes di beberapa negara dengan mayoritas penduduk muslim, termasuk di Indonesia.

Sejak 21 Mei 2010, fans page akun tersebut sebenarnya sudah tak lagi terdeteksi keberadaannya. Pakistan pun akhirnya telah membuka kembali akses Facebook di negaranya. Sementara itu aksi yang dilakukan Bangladesh boleh dibilang cukup telat, namun nampaknya hal ini mereka lakukan tak lain memang untuk menyatakan antipati mereka terhadap penistaan agama melalui situs jejaring sosial.

Sikap yang ditunjukkan oleh pemerintah Pakistan dan Banglades patut diapresiasi. Hal tersebut disebabkan menyangkut masalah ideologi, identitas, dan keyakinan . Mereka tidak menolerir siapapun yang mencoba mengusik pandangan hidup mereka. Itulah sikap yang harus ditunjukkan ketika harga diri dipertaruhkan.

What about Indonesia?

Nampaknya Bangsa Indonesia (sebagian red) sudah tak acuh lagi dengan fenomena yang seperti ini, seolah-olah  tidak menjadi masalah, padahal hal tersebut menyangkut identitas agama dimana hal tersebut yang selama ini kita anggap sakral…apakah sikap ini merefleksikan kondisi agama islam di Indonesia…Wallahu A’lam

Comments»